.quickedit { display:none; }

Tinggal pilih entri yang kamu suka

Tuesday, June 25, 2013

Novel : Tragedi Filosofi I


I (Part 1)
(marsya)
Lega rasanya kalau aku sudah menyelesaikan tugasku sebagai siswi selama dua belas tahun. Sekarang aku sudah resmi menjabat gelar mahasiswa. Senang banget akhirnya aku bisa duduk di bangku perkuliahan walaupun sebenarnya aku terpaksa masuk kuliah di sini. Aku enggak lulus masuk universitas yang aku inginkan. Aku bergegas pergi ke kampus. Dengan baju batik pink dan rok hitam panjang serta jilbab yang warnanya senada dengan warna baju, aku dengan penuh percaya diri memasuki kelas 322 lantai tiga.
Hanya ingin melapor, sebelumnya aku berdesak-desakan mencari nama dan kelasku di papan pengumuman. Dan kamu tahu, papan pengumuman dipenuhi mahasiswa-mahasiswa lainnya. Cukup lima menit, akhirnya aku bisa keluar dari penderitaan dengan jilbab yang agak kurang rapi sedikit.
Ternyata naik ke lantai tiga secara manual cukup melelahkan dan membuang-buang energi. Huft, wajahku langsung berkeringat setelah menyelesaikan beberapa anak tangga. Nafasku juga ngos- ngosan. Seandainya saja ada eskalator... agh.. sudahlah. Kampus ini adalah pilihan orang tuaku. Aku tidak boleh mengeluh.
Pintu kelas baruku terbuka lebar. Beberapa orang memang sudah ada di sana. Aku mengambil tempat duduk di sebelah kiri dan jauh dari jendela. Posisinya tidak terlalu belakang dan depan. Aku duduk di sebelah wanita berjilbab biru donker. Ia tersenyum ramah ketika aku melintas di hadapannya.
Sebelum ada instruksi dari siapapun, aku memandangi wajah-wajah teman baru. Ada banyak wanita di sini dan sayangnya hanya ada tujuh pria saja. Tapi untung saja, tak ada satu pun yang ganteng. Kalau saja semuanya ganteng, aku bisa membayangkan wanita-wanita di sini, mungkin termasuk aku bakalan siap saling tarik-tarikkan jilbab memperebutkan mereka. Hahaha, untung hanya khayalanku saja.
"Teman-teman, mohon perhatiannya ya" teriak seorang gadis berjilbab kuning itu. Suaranya mampu mengambil semua perhatian teman-teman, termasuk aku. Khayalanku tentang tarik-tarikan jilbab tadi buyar. Wanita itu langsung mengambil posisi ke depan kelas dan memberi instruksi. Wah kalau menurutku, wanita ini punya nyali yang besar juga buat tampil ke depan.
"Gini teman-teman. Salam kenal ya dari aku. Namaku Rossy. Ini kan hari pertama kita kuliah jadi kita harus memilih siapa komisaris mahasiswa di kelas ini. Jadi aku harap teman-teman bisa kasi usul siapa". Tambah Rossy lagi.
“Iya, bener tuh. Sebaiknya laki-laki yang menjadi Kosma”, sambung seorang lelaki yang duduk di sudut depan. Ia memakai baju kemeja merah yang membuat orang sangat segar menatapnya. Kulit hitamnya juga tertutupi.
“Aku setuju. Sebaiknya laki-lakinya kenalan dulu. Kan cuma tujuh orang. Terus sampaikan aja misi dan visi kalian sebagai kosma. Terus baru kita pilih. Voting yang paling tinggi akan jadi kosma dan yang kedua akan jadi wakil kosma.” Sambung Rossy menjelaskan.
“Ayolah cepat. Waktu terus berjalan sobat”, sambung wanita berjilbab coklat dengan baju kemeja kotak-kotak. Bahasanya cukup membuat kami, kawan barunya terdengar akrab.
Suasana hening. Agaknya kami belum membiasakan diri dengan suasana baru, apalagi harus memperkenalkan visi dan misi. Terkesan mendadak menurutku. Tiba-tiba saja seorang pria memakai baju batik coklat maju ke depan. Kulitnya sawo matang. Hidungnya lumayan mancung. Wajahnya bujur sirih tampak seperti pria cantik. Bibirnya kecil imut. Kalau dilihat dari wajahnya, ia seperti sudah berumur 20 tahun.
“Sebenarnya aku berdiri di sini cuma pengen ngasi usul aja. Gimana siapa yang mau jadi kosma, dia harus tunjuk tangan aja. Mungkin dari tujuh orang ini, palingan juga ada tiga orang yang mau jadi Kosma. Terimakasih.”, kata pria yang tinggi semampai. Badannya tegap, tidak kurus dan gemuk. Kelihatan seperti seorang model. Pria itu langsung berjalan dan kembali ke tempat duduk awalnya, di belakang sebelah kanan, dekat dengan jendela.
Aku seolah-olah terhipnotis dengan apa yang disampaikan pria tadi. Aku langsung berdiri dan mulai menyampaikan aspirasi.
“Aku setuju dengan apa yang dibilang saudara…” tiba-tiba aku berhenti berkata. Aku lupa kalau aku belum tahu siapa namanya. Aku langsung memalingkan wajah yang semula ke depan menjadi ke arah pria tadi. Ia juga menatapku.
“Saudara siapa ya?” aku bertanya prihal namanya dengan berbahasa sedikit akrab dan mulai menunjuknya dengan seluruh jari tangan kananku.
“Aku?” sambung pria tadi.
Aku menganggukkan kepala.
            “Aku Indra,” sambungnya dengan sedikit senyuman.
Apa? Indra? Apa aku enggak salah dengar? Oh my god, nama itu lagi. Huft, aku benar-benar benci mendengar namanya. Dulu sewaktu SMA, aku pernah punya pacar, namanya juga Indra. Setelah kami pacaran selama tiga bulan. Indra selingkuh dengan sahabatku sendiri. Sakit sekali kalau orang yang kucinta selingkuh apalagi dengan sahabatku sendiri. Dasar, pagar makan tanaman. Kenapa aku harus mendengar nama itu lagi di sini? Aku yakin aku pasti sering mendengar ataupun memanggil nama itu lagi. Belum lagi sewaktu aku tamat SMA, mama memberiku sebuah kalung yang mainannya berhuruf I. Huruf I itu dilingkari dengan sebuah bentuk “Love”. Awalnya aku menolak memakai kalung itu, tapi mama memaksaku. Yah, aku mengerti, itu bukan dari Indra tapi dari mama. Itulah yang membuatku bertahan sampai sekarang memakai kalung itu.
            “Owh iya,” sambungku lagi agak sedikit refleks. Aku takut kawan-kawan baruku memikir yang aneh-aneh kalau aku terus menatap wajah Indra.
            “Aku setuju dengan apa yang dibilang saudara Indra tadi. Lagi pula itu terkesan tidak membuang-buang waktu. Jadi bagi teman-teman yang ingin menjadi kosma diharapkan untuk maju ke depan.” Sambungku agak sedikit tegas dan mulai duduk kembali.
Suasana masih saja hening. Aku bingung dengan mahasiswa-mahasiswa ini. Kenapa mereka malu-malu maju. Okelah kalau masih malu karena kami ini kawan baru mereka, tapi kan mereka sudah kami persilakan. Aghh  masa bodohlah. Aku mulai membuka-buka binder dan menulis apapun sesukaku.
Seorang  lelaki memakai baju liris-liris berwarna biru maju ke depan. Badannya agak sedikit pendek dari Indra. Ia memakai kaca mata yang tampak sedikit tebal.
            “Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh,” pria itu mulai berbicara.
Kami secara serempak menjawab salamnya.
            “Namaku Arnansyah. Kalian boleh memanggilku Arnan. Aku ingin mencalonkan diriku sebagai kosma. Jadi bagi kalian yang percaya sama aku, silahkan pilih aku. Visi dan misiku… jujur aku belum merancangnya, jadi insyaallah aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kalian. Assalamualaikum” Arnan menutup perkenalan dan visi misinya dengan cukup singkat sekali. Aku saja terkesima hingga sedikit lupa menutup rapat mulutku. Arnan terlalu cepat berbicara. Jadi kalau mau terus eksis mendengar apa yang dikatakannya cukup pasang telinga dan jangan berbicara. Biar fokus.
Kemudian pria memakai kemeja lengan pendek kotak-kotak hitam putih maju ke depan.
            “Assalamualaikum teman-teman. Nama saya Herman. Saya berasal dari sekolah SMA N 3 Medan, tapi saya sekolah di sana cuma setahun. Lalu saya pindah ke Jakarta dan sekarang saya kembali lagi ke Medan. Sama seperti saudara Arnan tadi, insyaallah saya akan melakukan yang terbaik buat kelas ini”. Tutupnya mantap. Bahasanya cukup santun memakai kata “saya”. Terdengar intelektual.
Suasana kembali hening. Calonnya baru dua, padahal aku berharap ada tiga. Sebenarnya aku berharap kalau orang yang namanya Indra tadi ikutan mencalonkan diri. Aku meliriknya sedikit. Ia kelihatan masih asyik dengan lamunannya. Kalau dilihat-lihat Indra yang ini cukup cuek. Aku suka gayanya yang agak kurang peduli.
            “Siapa lagi yang ingin mencalonkan diri, harap untuk maju ke depan. Kalau lima menit enggak ada yang mau, pencalonan kita tutup dan mulai voting karena sebentar lagi bu Dewi akan masuk ke kelas kita,” ucap Rossy secara tegas.
Yah, kata-kata Rossy tadi membuat Indra kembali fokus dengan pencalonan ini. Ia langsung bangkit dari tempat duduk dan menuju ke depan kelas.
            “Selamat siang teman-teman. Namaku Indra Afrizal. Kalian bisa memanggilku Indra atau  Afri. Tapi aku berharap kalian memanggilku Afri. Aku belum buat visi dan misi tapi aku janji sama kalian untuk melakukan yang terbaik semampuku buat kelas ini.” Katanya tegas dan membuat teman-teman tampak lebih fokus.
Akhirnya perkenalan visi dan misi selesai juga. Saatnya untuk voting. Aku bingung harus memilih siapa. Awal perkenalan belum bisa menunjukkan karakter seseorang. Belum tentu apa yang diucapkan sesuai dengan apa yang dilakukannya nanti. Ini sebuah tanggung jawab. Sewaktu ospek dulu, kakak senior pernah bilang kalau kosma adalah pemimpin anggota-anggotanya. Tugas dan tanggung jawabnya cukup berat. Kosma harus merelakan waktunya untuk mencari, menunggu dan ditolak dosen yang bersangkutan. Belum lagi karakter teman-teman yang kurang sependapat dengan kosma. Kosma mesti sabar dan berjiwa besar.
Enggak terasa giliranku tiba juga. Aku melangkah pelan dan mulai menimbang-nimbang siapa yang layak jadi kosma. Kupandangi nama mereka satu persatu diatas kertas voting. Kalau Arnan, ia terlalu cepat berbicara, tampak tergesa-gesa. Di mataku, Arnan mulai gugur jadi kosma. Kalau Herman, dia punya nilai plus tersendiri. Bahasanya lumayan santun dan seperti orang-orang pintar berintelektual tinggi. Kalau disuruh bernego dengan dosen supaya libur satu hari lumayan bisalah si Herman. Okelah kalau Herman, pilihannya aku simpan dulu. Beranjak ke Indra. Tanpa pikir panjang aku langsung mengabaikannya. Alasan pertama yang membuatku seperti itu karena jelas namanya sama dengan mantanku. Kalau urusan namanya sama aku tidak bisa mentolerir. Pilihanku ini terlalu subjektif. Aku langsung melingkari nama si Herman di kertas itu.
Beberapa menit kemudian tim sukses kelas kami berhasil mengakumulasi voting. Terpilihlah Herman sebagai kosma dan Arnan sebagai wakil kosma. Beberapa teman-teman memberi selamat. Wajah Arnan dan Herman tampak kegirangan menerima kata ‘selamat’. Berbeda sekali dengan Indra. Ia malah keluar kelas dengan wajah yang penuh amarah. Sebelumnya ia menggeser satu kursi dengan kakinya dan terdengar cukup keras. Semua orang yang ada di kelas itu bingung. Mata kami tertuju pada Indra yang melangkah menjauhi kelas.


No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung ke blog saya ^_^

Salam Cahaya ^_^