.quickedit { display:none; }

Tinggal pilih entri yang kamu suka

Thursday, November 3, 2011

Rey Buat Ilma


Malam ini aku putuskan untuk menghapusnya dari ingatanku. Lebih tepatnya menghapus namanya dari lingkaran cinta di hatiku. Sebenarnya aku gak mau melakukan ini tapi karena keadaan hati yang selalu memaksaku untuk tidak mencintainya lagi. Memang aku hanya sekedar mencintainya dalam hati saja dan tak ingin orang tau tentang perasaanku yang sesungguhnya. Namun apa itu cukup membuatku mudah untuk melupakannya. Ternyata tidak. Kalau aku bisa menggambarkan isi hatiku saat ini, hatiku hancur berkeping-keping dengan cara yang udah aku lakukan. Sakit sekali rasanya. Malam ini juga aku membakar buku diaryku yang kebanyakan isinya hanya tentang dia, dia dan dia di depan halaman rumahku. Andai saja dia tau kalau aku juga membakar diary itu dengan air mataku sendiri. Aku termenung menyaksikan pembakaran itu. Sebenarnya dari hati kecilku sendiri, aku tak ingin melakukan itu. Seandainya perasaanku yang bermain disitu, aku pasti sudah leluasa untuk memadamkan api itu tapi karena logikaku mengarahkanku untuk tegar, maka apapun yang terjadi aku akan tetap membiarkannya terbakar. Sama seperti hatiku saat ini. Panas.
###
Pagi-pagi buta aku sudah berangkat ke kampus. Sesampainya di kampus aku sama sekali tak menemui teman sekelasku. Kelas masih kosong. Aku duduk di sudut paling belakang dan membuka-buka file yang ada di laptopku. Aku ingin menulis. Menulis apa aja yang yang ada di benakku. Tanganku dengan sangat cepat bermain di tuts keyboard. Ketika begitu asyiknya aku terhanyut dengan tulisanku, aku gak tau kalau ada seseorang yang datang menghampiriku. Aku tau siapa dia.
“Hey, kok tumben cepat datang?” sapa Rey tiba-tiba kepadaku.
Aku terkejut mendengar suaranya. Secara tiba-tiba pula jantungku berdetak lebih kencang. Berbeda dari biasanya. Aku mencoba menutupi kondisi hatiku saat ini dengan seulas senyum yang aku pamerkan padanya.
“Iya, pengen cepat aja biar gak telat” sambungku menjawab pertanyaannya.
Aku membiarkannya tetap di sampingku. Ia tampak sedang memerhatikanku menulis. kubiarkan saja dia. Sama sekali aku tak ingin berkomunikasi dengannya. Aku hanya menjawab pertanyaannya kalau dia menanyaiku. Sekitar sepuluh menit kami saling terdiam. Selama itu pula ia memerhatikan tulisanku.
“Wah, bagus ya cerpenmu. Kayaknya dari hati tuh nulisnya” ujarnya tampak tulus.
“Makasih” jawabku sederhana.
“Kamu kenapa sich. Kok jadi pendiam gitu? Berubah” ungkapnya.
Seketika itu jantungku berdetak semakin kencang. Mengapa dia tahu kalau aku berubah? Entahlah. aku heran dengan dia. Sudah hampir satu tahun kami saling mengenal. Dan bagiku dia adalah orang yang benar-benar tau tentang psikologiku. Lebih tepatnya isI hatiku. Tapi mengapa dia gak tau kalau aku benar-benar membutuhkannya? Apa dia tidak bisa membaca perasaanku? Mengapa dia tidak bisa mengartikan tatapanku? Hah! Begitu banyak pertanyaan yang harus aku lontarkan padanya. Andai kau tau perasaanku ini Rey, pasti kau bakal tertawa lepas atau mungkin heran mengapa gadis cuek dan dingin sepertiku bisa jatuh hati denganmu. Atau mungkin kau akan puas karena harapanmu telah menjadi kenyataan dan kau menang!. Aku terus saja membatin.
“Gak kok biasa aja” aku terus membela diri.
“Terserahmulah!” sambung Rey kesal dan pergi meninggalkanku.
Rey marah. Seperginya Rey dari kelas tadi, aku langsung mematikan laptop. Aku tau kalau Rey lagi marah. Dia sering puasa ngomong denganku sebagai tanda marahnya itu. Hah! Menggondokkan. Aku harus bersiap-siap untuk pura-pura tegar dan senang tanpanya.
###
Dari hari kehari hubunganku semakin longgar dan menjauh. Kubiarkan aja tetap seperti itu. Memang itukan yang ia inginkan. Perlakuannya cukup membantuku untuk melupakannya. Terimakasih. Itu adalah bentuk dari kelogikaanku, kalau perasaanku lain lagi. aghhh… aku tak ingin bermain perasaan disini.
“Ilma, ada yag ingin aku bicarakan sama kamu” sapa Sarah ketika aku lagi jalan ke halte, menunggu angkot datang.
“Apa?” jawabku seadanya.
Kami terus saja berjalan ke arah halte. Disana gak ada satu orang pun yang menunggu angkot. Jadi aku putuskan untuk membahas apa yang ingin dibilang Sarah padaku di halte nanti.
“Gini Ma, sebentar lagi Rey bakal pergi ke Jakarta. ayahnya pindah tugas say” Sarah menjelaskan.
“Lalu apa hubungannya denganku?”
“Ich, kok gitu sich ngomongnya. Kamu kenapa sich belakangan ini sama Rey. Kok gak akrab lagi? aku heranlah sama kalian. Ada apa sich?” pertanyaan Sarah bertubi-tubi menyerangku.
“Apa kamu gak cinta dengan Rey lagi?” tanya Sarah secara tiba-tiba. Memang selama ini Sarah yang tau perasaanku. Kurasa aku harus menjelaskan secara detail dengan Sarah agar dia mendukung cara yang selama ini aku lakukan.
“Kamu gak tau Rah yang sebenarnya. Aku ingin menghapus dia dari ingatanku. Buat apa cinta yang tak ada ujungnya dipertahankan. Cuma bisa buat sakit hati aja. Capek Rah mencintai sesuatu yang tanpa ujung. Gak ada kepastian. Capek harus diulur-tarik sama dia. Aku gak bisa Rah. Aku nyerah mencintai orang yang seperti dia. Sakit rasanya. Kalaulah memang dia sama sekali gak punya perasaan sama aku, untuk apa dia lakukan semua yang aku suka, menarik perhatianku dan dulu juga dia pernah bilang sama aku kalau dia berikrar sebisa dia membuatku jatuh cinta. Apa maksudnya itu? Dia ingin buat aku terluka? Aku benci sama dia. Aku nyerah Rah” jelasku.
Aku puas mengungkapkan semua isi hatiku dengan Sarah. Ia hanya terdiam mendengar penjelasanku. Sama sekali gak ada sepatah kata pun yang ia ucapkan.
“Dua hari lagi Rey bakal pergi Ma” sambung Sarah. Suaranya nyaris tak terdengar.
“Yodah, pergi aja” jawabku cuek dan acuh tak acuh.
###
Hari ini adalah hari keberangkatan Rey ke Jakarta. Satu hari ini aku berniat untuk tidak keluar rumah. Untung aja hari ini adalah hari libur. Jadi aku bisa satu harian menetap di kamar. Aku juga mematikan hp dan menonaktifkan facebookku. Sama sekali aku tak ingin berkomunikasi dengan Rey. Aku benci dia.
“Ma, ada orang datang mencarimu” kata Mbok Minah menggedor kamarku
“Siapa Mbok?” jeritku dari kamar.
“Nak Rey, Ma”
Rey? Rey datang?. Hah! jantungku kumat lagi. ia berdetak lebih kencang lagi mendengar nama Rey. Oh My God, aku kok jadi gini. Sebenarnya aku senang karena Rey datang. Tapi aku gengsi temui dia. Kami kan lagi marahan. Aghhh… tapi sebentar lagi dia pergi ke Jakarta. aghhhhhhh….
“Suruh aja dia pergi Mbok. Bilang sama dia kalau Ilma gak mau jumpa lagi sama dia” jeritku dari kamar.
Mbok Minah menjalankan semua apa yang aku bilang tadi. Dia menyuruh Rey untuk pulang. Dan Rey menurut saja. Nampak kali gak seriusnya. Kalau dia benar-benar cinta dan ingin bertemu denganku pasti dia ngotot untuk menungguku keluar kamar. Aku kembali lesu. Biarkan aja dia pergi. Hatiku terus menjerit. Gak tahan itu semua, aku langsung keluar dari kamar dan berlari menuju pagar luar rumahku. Aku hanya ingin melihatnya dan berbicara padanya. Saat itu Rey masih membuka pagar rumahku.
“Rey” jeritku sambil berlari dan… aghhhh.. aku terjatuh.
“Ilma” sambung Rey cepat dan membantuku untuk bangkit.
“Aduh” aku meringis kesakitan.
Lututku berdarah. Mbok Minah langsung membawa alat-alat P3K. dan Rey yang mengobati lukaku. Aku diam sesaat.
“Kamu mau pindah ke Jakarta ya Rey?” tanyaku tiba-tiba
“Ssssttttt” Rey mendekatkan telunjuknya kebibirnya sebagai tanda agar aku diam. Dia tak memberiku kesempatan untuk bicara.
“Akhirnya aku bisa buat kamu jatuh cinta!” ujar Rey tersenyum
“Mak…sudnya?”
“Sssstttt” Rey sama sekali tak ingin membiarkanku bicara
“Terimakasih Ilma. Udah saatnya kamu tau tentang perasaanku selama ini. Aku mencintaimu. Aku sayang sama kamu. Aku butuh kamu Ma. Semua yang kulakukan hanya untuk membuatmu bahagia” Jelas Rey
“Aku gak percaya sama kamu Rey! Kalau kamu serius untuk apa kamu mengulur tarik aku? Untuk apa kamu langsung pergi ketika Mbok Minah mennyuruhmu pergi? Kok gak nuggu aku keluar?” tanyaku kesal.
“Hahahaha” Rey tertawa lepas.
“Itu bukti kalau aku mencintaimu dan mendeteksi kalau kamu juga mencintaiku” ujar Rey lagi
Aku diam dan tetap tak mengerti. Hah! dasar Rey. Dia cukup pintar ternyata. Pikirku dalam hati.
“Masih gak ngerti ya? Hahahaha… sebenarnya aku dah tau sejak lama kalau kamu juga cinta sama aku. Kelihatan tuh dari tatapanmu. Tapi aku diam aja. Aku Cuma butuh pembuktian. Makanya aku ulur kamu Ma, biar kamu tarik aku Ma. Jadi dengan begitu aku bisa tau kalau kamu juga cinta sama aku. Nah, kalau aku langsung pergi, itu karena aku ikuti semua perintahmu. Kan kamu sendiri yang bilang ke Mbok Minah untuk menyuruhku pergi, makanya aku langsung pergi. Semua yang kamu mau akan aku turuti Ma, termasuk menyuruhku pergi dari kehidupanmu, asal kamu bahagia Ma” Rey panjang lebar menjelaskan.
Aku gak tau harus ngomong apa lagi ke Rey. Aku hanya bisa diam. Hatiku bahagia banget saat ini. Senang karena Rey ternyata mencintaiku. Tapi aku juga sedih karena sebentar lagi Rey bakal pergi jauh. Kami pasti jarang ketemuan.
“Kamu pindah ke Jakarta?” sambungku
“Kamu maunya aku pergi gak?” Tanya Rey lagi
“Hmmmmm, gak sich” jawabku malu-malu
“Hahaha. Nah gitulah. Akhirnya aku bisa menghapus cuekmu Ma. Hahahaha” tawa Rey membahana.
“Bukan dijawabnya! Yodah, pergi aja sana” sambungku kesal
“Aku gak bakal pergi ke Jakarta Ma”
“Apa?”
“Iya. Kamu yang bilang kamu gak mau aku pergi. Aku gak jadi pergi deh” jelas Rey.
###
Akhirnya Rey tahu tentang perasaanku selama ini. Ada rasa lega memang tapi ada rasa malu juga. Nyesel juga ada. Hahaha.. nyesel karena udah bakar buku diaryku. Tapi tenang, semuanya tentang Rey gak cuma aku tulis di buku diaryku tapi juga aku tulis di cerpenku. Lebih tepatnya buka cerpen tapi novel tentang aku dan dia. Semuaya akan aku abadikan. Nanti ketika waktu sudah bukan milikku lagi, novel ini akan aku persembahkan untuknya. Rey Buat Ilma.

Memory q

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung ke blog saya ^_^

Salam Cahaya ^_^