.quickedit { display:none; }

Tinggal pilih entri yang kamu suka

Friday, February 1, 2013

Balasan Untuk Sepucuk Surat
 #Enggak semua yang lo baca itu bener#
Akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan balasan surat untuk seseorang di sana. Sebenarnya surat darinya sudah lama melayang dan mendekam di lemariku, tapi entah mengapa aku masih belum saja tergerak untuk membalas surat itu hingga sampai saat ini. Surat itu kudapatkan sesudah tanggal 14 Februari. Aku lupa tanggal berapa tapi yang jelas sesudah hari Valentine itu.
Sejujurnya aku masih enggak sepakat dengan tanggal 14 Februari yang disebut-sebut sebagai hari Valentine. Bagiku setiap hari pun harus diisi dengan kasih sayang, bukan hanya hari Valentine saja!
Ditambah lagi aku adalah seorang muslim yang sebenarnya sama sekali tidak boleh merayakan hari Valentine karena hari itu tidak termasuk perayaan besar umat Islam. Satu hari setelah hari Valentine itu, Sri, sahabatku mengirim pesan untuk menemuinya esok hari karena ada titipan untukku, begitu katanya. Akhirnya aku menurut saja. Awalnya aku sudah tahu kalau itu pasti dari Arya, sahabatnya sewaktu SMA dan sahabat baruku di tahun 2012, tapi aku masih bertanya-tanya titipan apa yang ia berikan untukku. Tika, sahabatku yang tahu cerita aku dan Arya ikut menebak-nebak.
“Cie, dia bakalan ngasi coklat tuh buat kau, Mah!” canda TIka
“Mana pula” senggahku
“Mungkin aja dia merayakan hari Valentine” sambung Tika lagi
“Aghh, mana mungkin say. Agamanya kuat kok. Mana mau dia merayakan Valentine!” sambungku lagi meyakinkan Tika.
“Kalau kau dapat coklat, bagi-bagi aku ya” pinta Tika dengan tatapan yang menggodaku.
“Iya, beres tuh” balasku dengan senyuman.
Sebenarnya waktu itu aku menebak kalau Arya bakal memberiku surat atau buku. Alasan mengapa aku menebak surat, itu hanya feeling belaka. Kalau alasannya buku, itu karena aku dan Arya pernah bersama-sama ke Gramedia. Di sana, ada satu buku yang ingin aku beli, tapi enggak jadi. Waktu itu masih ujian akhir semester 3, makanya aku mau fokus dulu dengan ujian dan meninggalkan sedikit buku-buku yang tidak termasuk mata kuliah semester 3. Dan kurasa Arya bakal memberiku buku itu. hahaha… tapi aku enggak ngarep ya.
***
Kira-kira pukul 11 siang aku dan Sri bertemu. Tika juga ikut setia menemaniku menemui Sri. Aku tahu, Tika pasti bakalan minta apa yang akan diberikan Arya padaku. Hahaha, makanya dia ngekor terus kemana aku pergi.
Dugaanku benar, Arya memberikanku sepucuk surat. Ketika surat dikeluarkan Sri dari tasnya, kulihat wajah Tika tiba-tiba lesu. Harapannya untuk mendapat coklat musnah sudah. Sedih sekali kurasa. Dan aku juga sebenarnya sedih sekaligus penasaran apa isi surat itu. Tika merampas surat itu dariku. Aku berusaha memintanya dan mencoba untuk membuang surat itu. Entah mengapa, aku tiba-tiba emosi dan mulai marah-marah. Menurutku, Arya terlalu kekanak-kanakan. Untuk apa sich memberi surat kalau nomorku masih ada sama dia. Sms aja apa susahnya sich. Pikirku.
Di taman Tarbiyah yang baru dibangun itu, akhirnya aku dan Tika singgah sebentar dan duduk di taman itu. Karena malu takut diperhatikan orang-orang, aku bisa mengontrol emosiku sesaat. Tika mulai membuka dan membaca surat itu dengan menjiwai satu demi satu kata yag tertulis di sana. Saat itu, aku enggak bisa melukiskan perasaanku yang sesungguhnya. Aku sedih, perih atau apalah itu. Rasanya aku sudah menzalimi seseorang. Padahal aku sama sekali tidak bermaksud untuk memutuskan silaturahmi itu. Okelah dari pada banyak mukaddimah, lebih baik aku langsung membalas surat itu
Untuk Arya
Dari aku, seorang gadis yang tak sengaja melukaimu.
Aku baik-baik saja kok. Kabar kamu gimana? Baik juga kan? O ya, aku dapat IP yang agak lumayan tinggi loh walaupun kamu hampir tiap malam menelponku sewaktu ujian. Pasti kamu banggakan sama aku? Assekk, aku juga bangga… bangga kenapa ya? Enggak tahulah pokoknya bangga aja. Hahaha… kemarin liburan, aku udah pinter masak loh. Di rumah aku aja yang masak… Pasti kamu mau kan cobain masakan aku? Lha?? Kok jadi cerita masak dan IP ya? Kagak nyambung… Oke langsung ke inti surat! Nanti kalau ada waktu dan Allah mengizinkan, aku bakal nitip makanan buat kamu. Enggak surat lagi. Kalaupun enggak bisa, aku bakal nulis resep masakan di catatanku dan nge-tag kamu. Oke! Waduh…. Enggak-enggak! Harus konsentrasi ke isi surat.
Sejujurnya aku bingung sama kamu Arya! Kamu kenapa sich pakek ngapus nomor aku segala! Emangnya salah aku apa? Kalau kemarin aku minta kamu untuk tidak menelponku, itu karena aku gak suka lama-lama ditelpon! Telingaku panas akibat radiasi HP. Radiasi Hp itu sangat berbahaya loh! Temannya temanku ada yang mengidap kanker otak akibat sering telpon-telponan!. Bahayakan? Makanya aku enggak suka lama-lama ditelpon. Nah, kalau yang kemarin kamu nelpon aku dan yang ngangkat telpon itu laki-laki. Itu saudara sepupuku. Waktu itu aku udah pulang kampung. Pas kamu nelpon, aku lagi pergi dan meninggalkan HPku di rumah. Jadinya sepupuku yang ngangkat. Lagian kenapa kamu membawa masalah itu  di surat kamu kemarin. Kalau dia itu cowok aku, emangnya kenapa? Hahaha…
Kamu kenapa sich Arya? Apa yang terjadi sama kamu sampai-sampai kamu menghapus nomorku. Lagi-lagi aku memang harus mempertanyakan ini. Kita kan teman. Jadi masak teman sampai segitunya. Aku bingung sekali dengan kelakukanmu yang membuatku harus berintropeksi diri. Kalau dipikir-pikir secara logika, kamu enggak seharusnya menghapus nomorku cuma gara-gara aku menolak ditelpon dan yang ngangkat telpon itu suara laki-laki. Kamu enggak boleh marah loh dengan itu semua, aku kan temanmu. Tapi kalau dipikir-pikir pakek perasaan, kamu pasti menyimpan sesuatu dari aku kan? walaupun kamu enggak pernah bilang! Tapi sebagai gadis yang kadang-kadang mikir pakek logika dan perasaan, aku tahu apa yang kamu rasa.. Asseek… o ya, untuk mengidentifikasi masalah ini, aku pakek yang pertama, logika! Kamu juga dong, harus pakek logika. Jangan pakek perasaan!
Aku juga harus tegas atas kejadian ini. Kita ini teman! Oke… aku masih mau berteman denganmu sobat!
Sudah ya, sampai di sini dulu tulisanku. Bingung harus melanjutkan apa lagi. Lain kali kita sambung lagi ya…
See u my Friend!
Sekali lagi, maafkan aku ya!!!!
Hah! akhirnya unek-unek keluar juga. Semoga surat ini sampai ke FBnya. Dan ia baca! O ya, aku belum berterima kasih sama Arya. Makasih ya Arya udah melindungiku sewaktu kita kena tilang kemarin.. Hahahaha

NB : sekali lagi saya tekankan bahwa TIDAK SEMUA YANG LO BACA ITU BENER! OKe!!!!

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung ke blog saya ^_^

Salam Cahaya ^_^