.quickedit { display:none; }

Tinggal pilih entri yang kamu suka

Friday, February 1, 2013

Liburan Berhikmah 

Akhirnya liburan satu hari satu malam berakhir juga di rumah Safa tepatnya di Batu Bara. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil walaupun hanya sekedar berlibur di sana. Setidaknya rasa syukur kepada sang khalik semakin berapi-berapi.  Tapi satu hal yang cukup membuatku kecewa  adalah aku sengaja tak membawa ‘dedek’ (nama Notebookku) padahal ketika di pantai Bunga inspirasi meluber dari otakku. Aghhh… Nah sekarang aku mencoba untuk mengingat inspirasi-inspirasi itu.

Sebelumnya, aku akan menceritakan kronologis mengapa kami, PBI-1 bisa sampai ke sana. Awalnya hanya berupa ide candaan dari salah satu mahasiswa PBI-1, namun akhirnya kami menanggapi ide itu dengan serius. Sebagian dari kami setuju untuk silaturahmi ke rumah Safa. Ada sekitar lima belas orang yang bersedia berangkat ke sana. Senin pagi, 09 Januari kami sudah tiba di stasiun kereta api Medan dan siap untuk berangkat. Bagiku perjalanannya cukup menyenangkan. Hanya saja ada tiga orang sahabat kami yang harus merelakan dirinya menjadi pemeran utama tragedy drama korea. Icha, Irul dan Jun terlambat datang ke stasiun. Entah apa sebabnya tapi yang jelas itu bukan kemauan mereka. Kami semua sempat tak tenang waktu itu. Icha memutuskan untuk datang menyusul kami ke stasiun lain (aku gak tau nama stasiunnya woy). Sedangkan Jun dan Irul langsung berinisiatif untuk naik bus menyusul kami. Kami apresiasi perjuanganmu sobat!

Alhamdulillah akhirnya kami tiba di rumah Safa sekitar pukul sebelas lewat.  Kedatangan kami disambut ramah oleh keluarga Safa. Aku nyaman berada di tengah-tengah keluarga yang bernafaskan islam seperti keluarga Safa. Semoga kelak aku bisa membangun keluarga seperti itu. Aamiin. Sehabis makan siang dan salat zuhur, kami memutuskan untuk ke Pantai Bunga. Kak Eki, kakak Safa bersedia menjadi guide kami. Nah, yang membuat aku semangat lagi adalah kami bisa gratis masuk ke pantai itu. Alhamdulillah.

Tak memerlukan waktu berjam-jam untuk tiba di sana. Rasa damai dan tentram keluar begitu saja dari batinku ketika aku melihat ombak-ombak berkejar-kejaran ke tepi pantai. Indah sekali menurutku. Inspirasiku juga keluar mendadak. Namun sayang aku tak membawa alat tulis waktu itu. Alam-alam sekitar memaksaku untuk mengingat sang khalik. Betapa besarnya kekuasaan ilahi. Semua yang diciptakan Allah di dunia ini sungguh sangat bermanfaat. Ada pasir, ombak, air, pulau di seberang, mereka mempunyai manfaat yang berbeda. Alam ini sungguh membawaku terhanyut akan kebesaran ilahi. Betapa berdosanya aku yang selalu mengeluh dengan kekurangan dan takdirku. Alam ini menyadarkanku betapa adilnya Allah menciptakan semuanya. Sempat terpikir dalam benakku, mengapa aku diciptakan sebagai manusia?. Mengapa aku tidak diciptakan sebagai air, api, cahaya, matahari, bulan dan lain sebagainya? Bertanyaan bodoh memang. Seharusnya aku tak perlu mempertanyakan itu. Mungkin semua benda-benda mati yang ada di bumi ini akan mengutukku ketika mereka tahu aku menangis meratapi takdirku sebagai manusia. Seandainya Allah membiarkan mereka untuk bicara, mungkin mereka akan meminta kepada Allah untuk mengganti posisiku. Alias tukar arwah! Betapa bodohnya aku. Sekarang aku tengah sadar akan semuanya. Manusia adalah makhluk sempurna yang Allah ciptakan. Mereka memiliki akal pikiran maka dari itu Allah menyebutkan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Apalagi  yang membuatku merasa kekurangan? Ampuni aku ya Allah.

Di tempat ini pula, aku menuangkan segala masalahku. Aku tak menyangka air mataku menetes begitu saja ketika aku mengingat semua masalahku. Aku tahu, Allah maha adil. Allah memberikan masalah kepada hambanya untuk melihat seberapa besarkah keimanan dan kesabaran seorang hambanya. Masalah sebesar apapun pasti ada jalan keluarnya. Semua kejadian di dunia ini juga sudah ditakdirkan Allah sejak lama, lebih tepatnya ia sudah tercatat di Lauhul Mahfus sana. Ia berjalan sesuai kehendak Allah. Jadi tak ada gunanya meratapi takdir.

Walaupun hanya beberapa jam kami di pantai itu, setidaknya membuatku sadar betapa indahnya kehidupan ini. Tak pantas untuk dikeluhkan hanya karena masalah yang kecil. Aku pernah dapat sms dari seorang sahabatku yang isinya begini “jangan pernah mengatakan bahawa masalahku terlalu besar ya Allah. Tapi katakanlah, hey masalah, aku masih punya Allah yang maha besar”. Kira-kira begitulah isi sms itu. Akhirnya tersadarkan juga. Terimakasih ya Allah, Engkau masih sayang dengan seorang hamba yang penuh dengan dosa ini.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung ke blog saya ^_^

Salam Cahaya ^_^