.quickedit { display:none; }

Tinggal pilih entri yang kamu suka

Friday, February 8, 2013

Menilai Seseorang dari Akun Jejaring Sosial, Pikir-pikir Lagi Deh!

Iseng-inseng buka Facebook sudah terbaca status ribuan orang di beranda kita. Ada status yang berupa pengharapan seperti “ Ya Allah, semoga aku menang lomba hari ini”, status marah-marah, “Iss, benci kalilah aku lihat dia. Udah macam apa aku ngomong sama dia, gak ditergenya aku. Keterlaluan!! Pergi aja ke laut lo!”, status ngeluh, “Panas kalilah hari ini, butuh kipas. Tuhan, matikan donk lampu dunia ini!”, ada juga status bahagia dan syukur,” Alhamdulillah hari ini tulisanku terbit” dan yang paling booming sekarang ini status galau, “Aduh tetangga sebelah jalan-jalan sama pacarnya malam minggu begini, sedangkan gue cuma duduk manis ditemani nyamuk-nyamuk nakal, malangnya nasib yang jomblo ini”. Dan masih banyak lagi status-status lainnya. Sebelumnya perlu kita garis bawahi dulu apa sich Facebook itu? Siapa sich yang boleh punya akun Facebook itu? Facebook ini adalah salah satu jejaring sosial yang siapapun bisa menggunakannya (kalau ingin tau lebih dalam dan lebih ilmiah lagi sialakan searching mbah Google ya). Mulai dari kakek, nenek, ibu-ibu, bapak-bapak, tante, remaja-remaja bahkan anak-anak bisa menggunakan akun ini dan biodata yang kita buat bisa dipalsukan. Seandainya saja peraturan pembuatan Facebook ini harus memasukkan nomor KTP dengan benar, mungkin penggunanya tidak sampai miliyaran.

Kalau dilihat-lihat memang kepribadian seseorang sudah terbaca dari status yang diupdatenya di Facebook. Mungkin pada menit itu dia sedang sedih, senang, galau dan sebagainya sehingga ia harus mengeluarkan unek-uneknya lewat jejaringan sosial. Bisa saja dengan cara itu dapat membuatnya lega dan bahagia. Namun tidak sepenuhnya kita mengklaim seseorang sebagai ratu galau, ratu sedih atau apalah yang dapat menyudutkannya karena sekali lagi akun Fbnya adalah miliknya, jadi terserah dia mau buat apa di sana kecuali ada hal-hal yang dapat mengganggu orang lain misalnya memfitnah, membuka aib dan mempermalukan orang lain di depan umum. Itu baru tindakan keterlaluan dan perlu diluruskan ke jalan yang benar. Memang benar jika kita agak merasa terganggu (karena kita terlalu sensitif) dengan status seseorang di Facebook apalagi sampai-sampai kita ditandainya dalam status tapi itulah jejaring sosial. Kalau tidak ingin baca status orang-orang yang membuat kita palak karena terlalu galau, sedih, senang, marah-marah, lebih baik kita hapus saja dia dari pertemanan. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk membuat status seperti ini atau seperti itu sesuai kehendak kita. Kalau terganggu ditandai dalam status, lebih baik kita buat pengaturan privasi sendiri jadi orang-orang tidak semena-mena menandai kita dalam statusnya (mungkin ada di pengaturan privasi). Nah, kalau ada status yang berujung pada fitnah menfitnah, mempermalukan dan hal-hal yang membuat pandangan seseorang buruk terhadap kita, lebih baik diselesaikan dengan damai atau jika tidak puas dapat membawanya ke jalur hukum.

Nah, Facebookers sekalian, percaya enggak sich kalau satu orang memiliki lima akun Facebook dengan biodata yang berbeda-beda? Intinya sudah didapat, apapun yang ada di Facebook sebaiknya jangan dipercaya 100 persen. Saya pernah punya seorang teman sebut saja namanya Reka (samaran), dia memiliki tiga akun Facebook yang berbeda-beda mulai dari biodata, foto, dan lain sebagainya sehingga orang-orang tidak menyangka kalau itu Reka yang punya. Belum lagi statusnya berbeda-beda. Pada menit yang sama dia update status galau, di akun satunya lagi dia update status senang dan satunya lagi marah-marah enggak jelas. Tapi pada kenyataannya dia sedang jatuh cinta pada saat itu. Apa kita layak masih percaya dengan status seseorang? Jadi kalau mau mengukur seseorang lewat Facebook sebaiknya berikan 40% saja. Jangan lebih! Makanya terkadang penulis bingung dengan pengguna Facebook yang sudah jatuh cinta secepat kilat dan menilai seseorang paling baik sedunia hanya karena membaca statusnya tanpa tahu siapa dia sebenarnya. Belum lagi ada beberapa perusahaan asing yang mempertimbangkan lamaran kerja seseorang karena status jejaringan sosialnya (termasuk Facebook, Twitter, dll). Kalau menurut penulis status jejaringan sosial kurang bisa dijadikan patokan untuk menerima seseorang bekerja di perusahaan asing karena pada hakikatnya perusahaan seharusnya menilai dari segi kompetensinya. Jadi sepertinya terlalu sempit jika kita menilai seseorang dari status Facebook. Sekali lagi itu hanya perspektif saya saja. Jika ada pendapat yang berbeda itu lebih baik. Tinggal keluarkan saja karena negara kita ini adalah negara demokrasi.

Walaupun begitu kita sebagai pengguna jejaring sosial lebih baik berhati-hati dalam membuat status dan mengutarakan pendapat. Jangan sampai kita menunjukkan kelemahan-kelemahan kita dengan status atau komentar yang kita buat karena ini adalah jejaring sosial yang dapat dilihat orang banyak dan semua orang bisa menilai. So, berhati-hatilah.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung ke blog saya ^_^

Salam Cahaya ^_^