.quickedit { display:none; }

Tinggal pilih entri yang kamu suka

Sunday, June 9, 2013

BINGKISAN TAKDIR


Lagi-lagi aku lalai. Tanganku kembali menuliskan namanya di search facebookku, dan mulai mengklik ‘search’ di sebelahnya. Beberapa detik kemudian nama-nama yang serupa namanya muncul berderetan. Lalu aku mengklik satu nama yang sedari tadi kucari. Akhirnya, dinding Reza terbuka juga. Aku berusaha mencari informasi tentang Reza, mantan kekasihku tiga tahun yang lalu.
Namun tetap saja aku masih tidak menemukan status terbaru darinya. Fbnya seperti tak pernah dibuka. Mungkin kalau fb itu seperti rumah, ia sudah dipenuhi oleh sawang laba-laba karena sang pemilik tidak pernah update status, upload foto bahkan mengomentar status orang lain. Dalam dunia maya Reza seperti sudah mati. Tak ada tanda-tanda kehidupan di fbnya. Kemudian aku mengkilik tombol logout dan mematikan notebookku. 
###
Tiga tahun yang lalu…
Tepat pada tanggal 22 Nopember ini status kami berubah. Yang semula pacaran menjadi lajang. Mungkin kalau waktu itu aku mencantumkan status asliku di facebook, teman-teman fbku akan mengomentari statusku yang terakhir, single. Hari ini adalah hari yang cukup bersejarah. Bagiku, ini adalah kado ultah spesial dari orang tersayang selama hidupku. Hahahaha, cukup unik bukan? Di saat terluka seperti ini aku masih bisa tertawa dan menganggap ini biasa-biasa aja. Hey! Siapa bilang ini biasa-biasa aja? Ini luar biasa sobat! Seperti biasa aku kembali mengambil secarik kertas dan menuangkan segala isi hatiku di kertas itu. Setelah puas aku menaruh kertas itu di dalam sebuah kotak yang terbungkus kertas kado. Kemudian menyimpan kotak itu di belakang baju yang sudah terlipat rapi di lemariku. Aku memang sengaja tidak menulisnya di buku diaryku. Itu karena aku tak ingin mengotori buku diaryku dengan kisah-kisah kegalauan hati. Hahahaha, galau? Kata yang harus aku musnahkan dalam hidup ini.
Malam ini, aku mencoba menutup mataku dengan sebuah senyuman. Aku masih berangan-angan kalau apa yang ingin dikatakan Aldo tadi siang adalah kabar gembira dari Reza. Reza menitipkan sebuah kado pada Aldo untukku. Di dalam kado itu aku tak berharap ada barang-barang mewah. Cukup hanya secarik kertas yang bertuliskan ‘I Love You Forever’ saja sudah mampu menggantikan barang-barang yang bernilai miliyaran rupiah. Lalu aku menempelkan kertas itu di buku diaryku yang isi tulisannya tentang manisnya mencintai Reza. Jika semua angan itu jadi kenyataan, seharusnya kertas itu sudah tertempel di lembaran terakhir buku diaryku. Namun ternyata tidak! belum lagi aku menyelesaikan semua khayalan itu dalam angan-angan, tuhan sudah membuatku terlelap.
###
21 Nopember 2009, Sabtu
Akhirnya sekolah kami mengutus aku dan teman-temanku sekelas untuk mewakilkan sekolah dalam acara perlombaan Bahasa Inggris di USU. Acara perlombaan itu diadakan pada hari Sabtu dan Minggu, 21-22 Nopember 2009 di gedung Fakultas Bahasa dan Sastra USU. Pagi-pagi sekali kami sudah sampai di sekolah dan berangkat bersama-sama ke USU. Waktu itu, Reza, yang berstatus kekasihku juga ikut ke sana. Entah mengapa belakangan ini ia berbeda. Kami jadi jarang teguran. Mungkin waktu itu dia sedang sibuk dengan kegiatan sepak bolanya. Maklum, dia adalah salah satu personil sepak bola di sekolahku, dan pada waktu itu aku dengar-dengar akan ada pertandingan sepak bola. Jadi wajar saja, sikap dia seperti itu. Mungkin ia mau fokus dulu.
“Mah, ada yang mau aku sampaikan.” sapa Aldo ketika aku sedang mengantri di toilet umum wanita.
“Ya udah, bilang saja.” jawabku apa adanya. Waktu itu aku masih belum bisa menduga-duga apa yang akan dibilang Aldo.
“Gak enak ngomong disini. Ini dari Reza!”
“Entar aja ya” aku langsung meninggalkan Aldo dan mulai masuk ke toilet.
Sebenarnya ada apa ya dengan Reza sampai-sampai Aldo ingin memberitahu sesuatu tentangnya. Apa mungkin Reza mau memberiku kejutan melalui Aldo? Seminggu yang lalu kan ultahku. Dia aja belum ngucapin ‘met ultah’ sama aku. Aku terus menerka-nerka.
Sehabis perlombaan scrabble tadi, aku tak berjumpa dengan Reza. Kata Eki, ia pergi mencari kaos bola dan bola kaki. Entahlah. Aku jadi kepikiran tentang apa yang akan disampaikan Aldo tadi. Tapi kuurungkan niatku untuk langsung mencari Aldo dan menanyakannya. Aku takut menampakkan perasaan ini. Nanti orang lain pikir aku sangat mencintai Reza.
Aku tiba di rumah hampir jam tujuh malam. Aku langsung bergegas solat magrib. Setelah itu aku membereskan dapur dan menata ruangan. Biasanya aku melakukan itu semua ketika sore hari. Untuk hari ini, agak sedikit molor waktunya. Malam hampir larut, aku semakin tak bisa tidur. Aku jadi menghayal kalau seandainya apa yang disampaikan Aldo nanti adalah kejutan ultahku, aku pasti salah satu wanita yang paling bahagia nantinya. Semoga saja dugaanku ini benar. Aamiin…
Mataku masih saja belum terlelap. Aku kepikiran Reza. Sudah dua minggu lebih kami tak pernah smsan. Aku tahu bagaimana Reza. Dia bukan tipe lelaki yang suka kencan lewat dunia maya. Tapi apa salahnya kalau aku sms dia malam ini. Aku rasa dia belum tidur.
“Za, kapan tanding bolanya?” satu sms mendarat tertuju ke nomor Reza.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit…. 30 menit berlalu tanpa balasan sms dari Reza. Aku menghela nafas. Mungkin dia sudah tidur, pikirku.
###
22 Nopember 2009, Minggu
Hari ini adalah hari terakhir perlombaan. Sama seperti kemarin, kami tetap harus ke USU. Masih ada lomba speech dan grammar di sana. Walaupun perlombaanku sudah selesai kemarin, aku juga harus tetap ke USU, menjadi supporter terhandal pastinya. Hari ini agak mendung. Matahari mengintip di balik awan-awan tebal di langit. Pagi yang cukup indah. Kuharap seindah hatiku nantinya.
Sesampai disana, aku mencari-cari Reza dan ingin bertanya langsung padanya. Namun, ia tak kutemukan. Lagi-lagi temannya bilang kalau dia sibuk dan gak bisa datang. Yah, aku maklumi dia. Terkadang aku sedih sendiri. Punya kekasih tetapi seperti tak punya. Pernah terlintas di benakku untuk putus, tapi kurungkan niatku. Aku masih sayang sama Reza. Aku sempat menolak cinta teman abangku waktu itu dengan alasan aku sangat mencintai Reza, padahal teman abangku itu sangat mencintaiku. Hah? lalu Reza?  Apa dia masih mencintaiku? Mungkin iya, mungkin juga tidak! Aghh, tak bisa ditebak. Yang aku mengerti sekarang cinta adalah cuek. Cuek berarti cinta. Seperti itulah sikap Reza padaku belakangan ini.
Sehabis makan siang di USU, Aldo datang menemuiku dan mengajakku mengobrol di sekitaran taman kampus USU. Aku mengangguk sebagai tanda setuju dan langsung ke tempat tujuan. Aldo menanyai keadaanku sekarang. Dia juga mengucapkan ‘met ultah’ padaku. Sesampainya di taman, Aldo duduk di depanku. Inilah detik yang cukup menegangkan dalam hidupku. Detik-detik yang menghapus segala rasa cinta terhadap Reza. Cinta terhapus dan tergantikan dengan kebencian. Bukan kebencian tetapi kekecewaan. Aku tak ingin membenci Reza. Hati ini terlalu suci untuk membenci orang sebaik Reza.
“Seberapa besar sich cinta kamu ke Reza, Mah?” Aldo mengawali pembicaraan ini dengan pertanyaan yang cukup menghujam hatiku.
Awalnya aku tak tahu apa maksud pertanyaan Aldo tadi. Aku heran saja untuk apa dia bertanya tentang rasa itu? dalam situasi seperti ini aku masih memikirkan harga diri.
“Emangnya kenapa? Buat apa kamu tau?” aku kembali bertanya. Sampai kapanpun tak ada orang yang berhak tahu kalau aku sangat mencintai Reza. Siapapun itu. Cinta itu letaknya di hati, bukan untuk dipublikasikan. Cukup aku dan Tuhan yang tahu. Aku menatap mata Aldo sinis. Dia malah tersenyum.
“Bilang saja kenapa Mah! Entah berapa persen kek, mungkin 99% atau 80%. Sekitaran gitu kan?” Aldo terus memaksaku. Tapi aku tetap istiqomah untuk tidak mengatakannya.
Aku bangkit dari tempat dudukku. Suasana semakin memanas dan menegangkan.
“Ada apa sich sebenarnya? Langsung ajalah ke isi pembicaraan. Apa yang mau dibilang Reza?” tegasku seketika tak tahan dengan pertanyaan konyol Aldo.
Aldo tertawa sekarang. Dan aku hanya diam menatapnya jengkel. Mengikuti posisiku, Aldo juga berdiri.
“Gini Mah, kata Reza ‘Udah Ya’” sambung aldo tenang.
Aku masih heran dengan kalimat Aldo tadi. Apa? Udah? Apa sich maksud anak ini? Udahan apa? Aku mengerutkan dahi sebagai tanda tak mengerti.
“Jalani masing-masing,” lanjut Aldo lagi mempertegas maksudnya.
Aku terdiam. Sebisa mungkin aku mencerna semua kata-kata Aldo barusan. Kutahan segala perasaan ini. Aku mengerti mengapa Reza agak berubah. Ini cara dia untuk mengakhiri hubungan kami. Aku tersenyum kecut memandangi wajah Aldo yang tampak mengiba melihatku. Aku tegar. Untuk kali ini, harga diri jauh lebih penting dari pada sakit hati.
“Alasannya?” suaraku nyaris tak terdengar akibat menahan bom yang meledak di hati.
“Aku juga enggak tau Mah. Enggak jelas,” sambung Aldo lagi.
Mataku mulai berkaca-kaca. Kualihkan pandanganku dari tatapan Aldo dan menatap tiap bunga-bunga yang bersemi indah di taman ini. Hanya butuh beberapa detik, emosiku kembali stabil. Aku tersenyum menatap satu mawar putih yang di kelilingi mawar merah di depanku.
“Sabar ya Mah! Kamu sakit hati Mah? Aku juga sebenarnya gak suka liat cara dia putus sama kamu Mah! Kalau kamu sakit hati, bilang aja Mah, biar aku kasi pelajaran dia,” sambung Aldo lagi mencoba menenagkanku. Kurasa naluri Aldo cukup kuat membaca situasi hatiku saat ini. Aku tahu, Aldo mencoba menjadi sok pahlawan dalam situasi putus memutus ini. Dasar Aldo. Bego’ amat jadi orang. Mana ada cewek yang gak sakit hati diputusin tanpa ada alasan yang jelas. Walaupun aku tampak tegar tapi tetap saja hatiku rapuh. Geplek! Aku membatin.
Seulas senyum masih tersungging di pipi manisku. Dan mulai membalas tatapan Aldo.
“Ngapain pula aku sakit hati. Biasa aja kali. Aku terima kok. Lagian ada pepatah yang bilang ‘mati satu, tumbuh seribu’, ya kan?” ujarku sambil tertawa terbahak-bahak. Aku coba menghibur diri.
“Aneh dirimu. Sok tegar. Padahal sakit hati kan. Hahahaha.. ?” Aldo membalas tawaku. Kami saling tersenyum.
Akhirnya hari pemutusan berlangsung juga. Aku enggak pernah menyangka sebelumnya. Hubungan selama ini yang terlihat langgeng dan harmonis, justru cepat juga berakhir. Ditambah lagi enggak ada alasan yang jelas. Takdir berkata lain. Bagaimanapun juga aku harus terima. Kini aku mengerti cinta bukanlah segalanya. Cinta enggak menjadi jaminan untuk tetap bersama. Terkadang tanda cinta adalah putus dari orang lain. Cinta berarti putus. Analogi yang salah. Itulah yang sedang aku alami. Tak semanis yang kubayangkan. Namun, aku juga wajib menyadari bahwa keikhlasan jauh lebih indah dari pada cinta. Aku harus ikhlas. Reza masih menyimpan berjuta alasan mengapa ia mengakhiri hubungan ini. Kubiarkan ia menyimpan semua sampai takdir yang angkat bicara atas situasi ini. Diary itu masih menyimpan sejuta kenangan antara aku dan Reza. Kubuka lembar demi lembar diary itu. Kubaca halaman pertama. Halaman yang menceritakan betapa manisnya jatuh cinta. Aku tersenyum mencoba menahan tetesan air mata. Namun, ia tetap saja jatuh membasahi pipi ini.
###
Malam sudah berganti dan tiga tahun sudah berlalu. Aku masih tidak bisa melupakan kejadian itu. Itu karena tidak ada kejelasan atas putusnya hubungan ini. Semenjak kejadian itu, Reza seakan menghilang dari kehidupanku. Dia pindah sekolah. Terakhir kabar yang kudengar kalau ayah Reza dipindahtugaskan ke Jakarta. jadi mereka sekeluarga harus pindah ke sana. Mungkin pindah juga menjadi alasan mengapa Reza memutuskan hubungan kami. Nomor Reza yang dulunya bisa kuhubungi, kini sudah tidak aktif lagi.
Tepat pukul 7 pagi, aku langsung berangkat kuliah. Jarak antara rumah dan universitasku cukup jauh. Apalagi macet dimana-mana ditambah lagi dosen tidak memberikan toleransi bagi mahasiswa yang terlambat. Itulah yang membuatku semangat bangun jam lima pagi dan meninggalkan kasur yang rasanya kian empuk ketika malam berganti.
“Hilmah, ini ada titipan untukmu Nak.” tegur ibuku ketika aku datang menghampirinya untuk berpamitan pergi kuliah.
Ibu memberiku sebuah kotak yang dibalut kertas kado bergambar mickey mouse, kartun yang sangat aku suka sewaktu masih kecil dulu.
“Dari siapa Bu?” tanyaku sambil menerima kado itu.
“Ibu tidak tahu. Kemarin ada karyawan titipan kilat datang memberikan bingkisan ini ke rumah kita.” sambung ibu lagi.
Aku duduk di sebelah ibu dan membuka perlahan-lahan isi kado itu. Dalam kado itu, hanya ada sepucuk surat dan satu kertas yang di atasnya bergambar sketsa wajahku dengan seorang pria. Kupandangi wajah sketsa pria yang berada di sebelahku. Sesekali aku mengerutkan dahi karena sama sekali aku tidak mengetahui siapa wajah lelaki itu. Lalu, aku mulai membuka surat itu. Perlahan-lahan kubaca dengan mengamati kata demi kata yang tertuliskan. Lamban laun mataku sudah dipenuhi air mata. Tanganku sibuk menghapus sedikit demi sedikit air mata yang terjatuh di pipi. Kemudian, pandangan mataku mulai kabur. Bumi seakan gelap gulita dan aku mulai jatuh di pangkuan ibu.

Untuk : Hilmah
Dari : your sweetheart, Reza

Selamat ulang tahun yang ke 20 ya Mah. Semoga panjang umur dan sehat selalu. Beribu-ribu doa selalu aku panjatkan pada Tuhan agar Tuhan menjagamu di saat kamu tertidur dan bangun. Aku juga mendoakan agar kamu mendapatkan jodohmu yang baik suatu saat kelak. Semoga 13 Nopember ini menjadi hari yang paling bahagia untukmu. Aamiin.
Maafkan segala sikapku yang dingin tiga tahun yang lalu terhadapmu. Maafkan juga kalau aku terlalu cepat mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan kita dan aku memang sengaja untuk tidak memberikan kejelasan alasan mengapa aku meninggalkanmu. Sepertinya memang tidak ada kejelasan apapun atas keputusan itu karena hanya takdir yang akan menjelaskannya saat kau membaca surat terakhirku ini.
Sepertinya kau sudah bosan membaca tulisan permintaan maafku di surat ini, tapi itulah yang hanya bisa aku sampaikan. Hatimu terlalu suci untuk aku sakiti. Aku sudah lancang menghilang dari kehidupanmu. Sekali lagi maafkan aku.
Kau tahu siapa dua orang yang aku gambar di skesta itu? gadis yang memakai jilbab itu, aku rasa kamu tahu siapa dia. Itu adalah kamu. Kamu tampak anggun dengan balutan jilbab itu. Aku juga percaya kalau kamu juga bertanya-tanya siapa pria yang berada di sebelah gambarmu kan? itulah pria yang selalu aku doakan agar ia mendampingimu kelak. Namun, sayang, aku masih tidak tahu siapa lelaki itu. Aku juga tak mengerti mengapa tangan ini menggoreskan wajah lelaki itu. Tapi yang pasti, lelaki itu bukan aku. Karena Tuhan mentakdirkan kamu bukan bersamaku.
Ketika kamu membaca surat ini, aku sudah pergi jauh meninggalkan dunia ini dan hanya menyisakan sketsa dan surat ini untukmu. Entah mengapa Tuhan terlalu cepat memanggilku. Sejak dokter menvonisku terkena kanker otak tiga tahun yang lalu, tepatnya tanggal 7 Nopember 2009, aku merasa bahwa hubungan ini memang harus diakhiri. Aku enggak mau kalau semasa aku hidup, kamu menatapku sedih dengan balutan infus rumah sakit di tanganku. Lebih baik aku menghilang dari tatapanmu daripada aku harus menatapmu berlinangan air mata.
Percayalah, kisah kita yang dulu akan tetap abadi di lauh mahfuz sana. Aku sama sekali tidak pernah melupakanmu, dan melupakan kisah kita hingga akhirnya nyawaku hanya sampai di kerongkongan saja. Percayalah, aku tetap bahagia menatapmu dari pintu surga sana. Terimakasih sudah mau meluagkan waktumu membaca suratku.

Jakarta, 11 Nopember 2012
###
Reza sudah merelakan takdirnya. Sedangkan aku? Aku hanya mencoba mengabadikan kisah-kisah itu. Terkadang, aku masih tidak mengerti dengan takdir Tuhan mengapa Tuhan memisahkan kami? Entahlah, yang aku tahu sekarang Tuhan masih menyimpan berjuta rahasia takdirku selanjutnya.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung ke blog saya ^_^

Salam Cahaya ^_^