.quickedit { display:none; }

Tinggal pilih entri yang kamu suka

Tuesday, December 3, 2013

CERPEN : PENANTIAN RAN, UNTUK ZAFRAN



Kita pernah sama-sama mengisi. Sejenak menjauh lalu kembali lagi mendekat. Bingung harus berbuat apa dengan kondisi seperti ini. Aku sama sekali tak tahu harus bagaimana sebab hati ini masih belum tahu apa yang terjadi pada diri ini. Katakan padaku apa yang harus aku lakukan jika saat ini aku merindukan kehadiranmu lagi? 


Takbir berkumandang dengan sangat merdu. Semua umat muslim di seluruh penjuru dunia senang menyambut malam ini dan hari-hari berikutnya. Malam ini malam kemenangan setelah selama 30 hari berpuasa penuh, menahan amarah, dan melakukan ritual ibadah yang biasa dilakukan di bulan ramadhan pada umumnya. Malam ini, aku dan mama sengaja keluar rumah menuju pasar. Sungguh ramai sekali. Banyak sekali orang yang berpergian jalan-jalan. Terlihat motor-motor bergerak menuju pasar, dan meninggalkan pasar, SPBU dipenuhi orang-orang yang mengantri, belum lagi toko-toko baju dan sepatu semuanya ramai hingga kepadatan ini membuat kemacetan. Kemacetan yang wajar kurasa. Setelah pulang dari pasar membeli toples kue raya, aku dan mama pulang. Sampai di persimpangan, kami terjebak macet. Dan aku menikmati kemacetan itu.
Berbeda dengan gadis-gadis biasanya yang saat ini mereka tengah asyik duduk berdua dengan kekasihnya di atas roda dua, tertawa, saling bercerita panjang, aku berbeda. Entah berapa kali aku membuka fasilitas Facebook di hape ini selama lima menit. Kubuka, melihat-lihat pemberitahuan, dan beranda, lalu kututup lagi. Aku hanya ingin tahu kabarnya. Hanya itu. Walaupun ia tidak menyapaku atau mengomentari statusku di FB. Aku hanya ingin melihat status apa yang dibuatnya hari ini. Ternyata tidak ada padahal ia sering online. Aku sengaja memposting status yang isinya tentang perpulanganku ke rumah hari Minggu silam agar ia tahu kalau aku sedang berada di kampung. Tapi nyatanya sama. Kami masih tetap hilang komunikasi selama dua minggu. Aku kembali menutup aplikasi FB dengan menarik nafas panjang. Aku kecewa.
Aku memendam semua ini hanya karena aku seorang wanita. Hanya wanita. Mana boleh wanita yang harus mengungkapkan perasaannya pertama kali. Tidak boleh walaupun di luar sana banyak wanita yang mengagungkan-agungkan emansipasi wanita. Katanya kesetaraan gender juga ada dalam cinta dan aku hanya menatap sinis orang-orang yang berprinsip itu. Ini masalah hati, Bung! Lebih baik aku mati dalam memendam rasa cinta yang amat sangat dari pada harus mengungkapkan rasa itu terlebih dahulu.
Sehabis pulang dari pasar, aku salat Isya dan membiarkan mata ini terpejam lebih awal dari biasanya. Aku berusaha menidurkan mata ini, namun gagal karena pikiran ini masih hanyut dalam khayalan tentangnya. Entahlah. Memendam rasa ini sama dengan makan buah simalakana. Ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya. Banyak sekali hingga dengan pertanyaan itu aku tahu ia mencintaiku atau tidak. Mengapa sejak lima bulan ini ia sering menelponku, mengirimi sms, mengomentari statusku di Fb, memberi perhatian, motivasi dan nasehatnya untukku? Dia juga pernah memintaku untuk berdoa agar ia lulus dalam testing ujian masuk perusahaan asing. Apa itu terlihat biasa-biasa saja? Tidak! Semua perlakuannya itu membuatku jatuh cinta. Kami sudah bertetangga sejak aku masih duduk di kelas satu SD. Ia anak pindahan dari Jakarta dan menetap di Medan ini. Sudah lima belas tahun kami mengenal dan baru ini kami komunikasi seintens ini. Aku pernah mengaguminya ketika aku duduk di bangku SMP. Usia kami terpaut tiga tahun. Aku berada di bangku SMP dan ia SMA. Aku sering menatapnya memakai baju kemeja putih pendek dengan celana biru langit panjang. Ia memakai tas hitam dan berjalan pelan menuju sekolah. Ia terlihat gagah. Aku suka melihatnya menyapu halaman depan rumahnya di kala sore tiba. Aku juga sangat suka melihatnya ketika ia duduk manis membaca buku di depan rumahnya. Ia remaja yang sangat berbeda walau sewaktu ia kecil dulu ia sangat nakal. Ia pernah memukuli abang sepupuku yang tinggal di rumah kami. Dan wajar, konteknya masih kecil. Tapi kejadian itu membuat mamaku marah dan mendatanginya ke rumahnya. Kini kami sudah hampir menyelesaikan masa remaja dan bergegas masuk kategori dewasa. Saat ini usiaku 20 tahun, dan ia 23 tahun.
Sedikit tentangnya, namanya Zafran Mumtaz. Ia sudah menyelesaikan kuliahnya di USU jurusan Akutansi dan sekarang tengah bekerja di perusahaan asing yang ada di Jakarta. Aku senang, akhirnya ia lulus dalam testing masuk di perusahaan itu sebab beberapa waktu lalu hati ini menghardik Tuhan agar ia mengabulkan doaku untuk Bang Zafran walaupun bukan aku saja yang mendoakannya dalam ujian itu. Masih ada mamanya yang sangat ia cintai, ayahnya, dan seluruh keluarga besarnya. Dua hari sebelum bulan puasa tiba, ia pulang ke rumah dan aku masih berada di lokasi KKN. Saat ini, ia sudah satu bulan di rumah. Entah mengapa, sejak ia pulang ke rumah, ia sedikit berubah. Bang Zafran jarang menelponku, mengirimi sms, bahkan mengomentari statusku. Aku rindu semua cerita-ceritanya, percakapan manis itu, berbagai motivasi dan nasehatnya. Rindu, bahkan sangat rindu. Kerinduan ini sungguh tiada bertepi. Aku ingin malam ini juga datang ke rumahnya, menggedor-gedor pintunya, lalu menarik tangannya dan mengajaknya jalan-jalan. Yah, itu hanya sebuah khayalan murahan yang tidak mungkin aku lakukan.
***
“Ayo Ran. Cepat! Nanti kita enggak dapat tempat salat,” Jerit mama dari arah teras rumah. Aku masih asyik memakai bedak, lalu memakai mukena.
“Iya Ma. Sebentar lagi selesai,” suaraku tak kalah nyaring.
Aku keluar rumah menuju mama. Wajah mama kelihatan marah. Sepanjang perjalanan, mama terus menasehatiku atau lebih tepatnya memarahiku.
“Sering kali kamu lama-lama bersiap. Nanti kita enggak dapat tempat salat Id,” ujar mama berulang-ulang. Entah berapa kali. Dan aku hanya mengangguk pelan, mengiyakan.
Mama memang salah satu manusia yang disiplin dan tepat waktu. Ini entah lebaran ke berapa yang tiap lebaran mama selalu memarahiku. Aku bukannya tidak disiplin, tapi aku tidak mau menunggu lama-lama di sana. Waktu aku masih SD, suasana salat begini, aku pernah pergi jam tujuh pagi ke mesjid dan salatnya dimulai jam 8 pagi. Memang waktu itu aku dapat tempat yang relatif dekat dengan imam, tapi sayangnya kepalaku mendadak pusing. Mungkin itu efek menunggu terlalu lama. Dan mama tidak terlalu mengerti apa yang kurasakan.
Empat puluh lima menit berlaku dengan salat Id dan ceramah, semua jamaah bergegas pulang. Termasuk aku. Sedangkan mama sibuk bersalam-salaman dengan teman-temannya. Sebentar lagi aku berjalan menuju rumah dan meninggalkan mama. Ketika aku sudah ingin meninggalkan mesjid, aku melihat sosok Bang Zafran dengan baju hitam koko dan celana keper panjang ia kenakan. Ia sedang bercerita dengan ayahku di pinggiran jalan. Mereka terlihat akrab. Sejenak kemudian kuurungkan niatku untuk melewati mereka. Aku memasuki mesjid kembali dan menunggu mama. Lima menit kemudian, aku sudah tidak melihat mereka di pinggiran jalan. Aku bergegas menuju rumah.
Sesampainya di rumah, sungguh sangat mengejutkanku. Bang Zafran datang ke rumah. Ini untuk pertama kalinya aku menatapnya lagi dengan mata ini setelah selama enam tahun aku tidak melihatnya. Ada banyak perubahan dalam diri Bang Zafran. Ini juga untuk pertama kalinya aku menatapnya dengan jarak yang relatif dekat. Wajah itu kembali hadir. Aku mematung dan kami saling menatap.
“Apa kabar Ran?” tanyanya dengan wajah yang sumringah. Namun hatiku ini masih percaya, ada rindu yang menggebu di sudut matanya. Dan ia berhasil menutupinya.
“Baik, Abang?” tanyaku padanya dengan tempo agak lambat. Aku kaku.
“Baik,” sambungnya singkat dan kembali cerita dengan ayah.
Aku berjalan menuju kamar dengan degupan jantung yag begitu kencang, tak seirama dengan kaki. Mama tersenyum sebab mama tahu segala bentuk penantian ini.
“Buatkanlah minuman,” ujar mama pelan.
Dan aku tersenyum sambil mengangguk.
Sepuluh menit kemudian, aku mengantarkan minuman. Setelah minumannya habis, Bang Zafran pulang ke rumah.
Ada perasaan lega merasuk di jiwa ini. Entahlah. Ini juga untuk pertama kalinya ia datang ke rumahku setelah 15 tahun lebih bertetangga. Risau ini terasa telah usai. Kehadirannya seperti menwarkan kepastian yang selalu kunanti. Ada banyak rasa syukur yang kupanjatkan hari ini. Aku berterimakasih pada Tuhan yang sudah membuat takdir kami bertemu, pada seluruh elemen alam semesta yang sudah mempertemukan kami, pada saksi, semut-semut kecil yang sedang asyik melewati depan pagar rumahku lalu pada rumput yang menjadi bekas injakannya Bang Zafran, semuanya meninggalkan jejak. Tepat pada tanggal 13 November, kita kembali di pertemukan. Dan hati ini semakin mantap memasang wajahnya di bingkai hatiku. Wajah teduh penuh dengan ketenangan, senyuman indah, lalu alis mata yang membuat mata ini tak bisa terpejam. Namun sayangnya, bukan segala bentuk itu yang membuatku jatuh hati, bukan! Tapi segala cara yang ia lakukan membuat hati ini menjadi sangat mencintainya.
Esoknya, takdir kembali menyapa kami dalam ruang dan waktu yang sama. Bang Zafran mengajakku jalan. Katanya ia ingin hunting makanan enak di sekitaran Medan ini. Dan ia ingin aku menemaninya.  Aku hanya membalas, “Iya” dalam sms itu. Ada perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Ia terlalu bermakna, terlalu bermakna. Aku menengadah ke langit, dan berkata, “Terimakasih Tuhan.” Satu jam setengah kemudian, ia datang ke rumahku, berpamitan pada mama dan ayah. Caranya membuatku semakin memilihnya.
Hari ini kami banyak bercerita di atas roda dua lari 20 Km/jam. Patokan lari yang sangat lambat. Kami saling bercerita tentang diri kami, tentang kuliahku, mimpi-mimpiku menjadi penulis dan pembisnis, angan-angannya, ceritanya tentang kota Jakarta, tentang buku yang ia baca, dan masih banyak lagi. Tanpa kusadari sepanjang perjalanan, jantung ini masih tengah berdegup kencang dari biasanya. Perlahan ada perasaan yang merasuk di jiwa ini. Perasaan itu semakin memaku wajahnya dalam bingkai hati ini, menutup pintu lain yang bisa dimasuki orang-orang dan sebongkah perasaan yang kembali membuat jantung ini kembali berdetak dari biasanya. Namun tetap saja, aku menyimpannya rapat-rapat hingga tidak ada yang tahu kecuali aku dan Tuhan. Kini, aku tengah menantinya untuk mengungkapkan perasaan itu. Entah sampai kapan penantian ini. Biarkan saja waktu yang menjawabnya. Biarkan saja

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung ke blog saya ^_^

Salam Cahaya ^_^