.quickedit { display:none; }

Tinggal pilih entri yang kamu suka

Friday, February 1, 2013

Cinta : Sebuah Penghapusan Dosa

Malam ini terasa sepi. Enggak ada seorang pun selain gadis bermata bulat di kamar itu. Lampunya hampir tak bercahaya. Gadis itu tampak seperti tidur dengan posisi badan menyamping. Ia sama sekali belum tidur walau matanya sudah terpejam beberapa jam lalu. Sesekali angin malam mengetuk jendelanya. Namun, ia tetap terbaring. Wajahnya pilu. Ada semacam rasa yang terpendam di batinnya. Sesekali air mata membasahi pipinya dan member kilatan sedikit cahaya. Hatinya penuh gundah. Wajah yang terbalut senyuman di siang hari kini redup pada malam hari. Ia tak mengerti dengan sebuah arti kepergian. Entahlah! Ingatan itu begitu jelas saat-saat ia mengenal lelaki itu. Semua tatapannya, senyumannya, suaranya, gerak-geriknya, yah semuanya seakan memorinya terulang kembali dengan pria itu. Saat di mana sebuah keadaan memaksa untuk mengenali sosoknya bahkan memaksa untuk mencintainya. “karena kamu dan aku akan saling mencintai”, kata-kata itu kembali terngiang jelas seperti beberapa tahun silam. Tapi begitu jauh berbeda dari kenyataan sekarang. Mungkin takdir tidak berpihak dengannya. Malam-malam indah, siang hari penuh ceria dan cerita kini memang harus usai ditelan takdir. Gadis itu sebenarnya ingin menjerit namun ia tak bisa. Ada rasa sesak di dadanya yang hanya bisa diungkapkan dengan air mata. Bukan dengan suara ataupun kata-kata.

“Tolong jangan pergi!” jeritan itu tak didengar di alam nyata. Gadis itu membiarkan sosok itu pergi bersama bidadari kecil. Entah siapa dia. Sosok itu meninggalkannya dalam sebuah tanda Tanya besar yang enggak pernah terungkapkan. Hatinya berkecamuk. Ia ingin melawan takdir dan meraih sosok itu kembali. Tapi tidak mungkin karena gadis itu hanya seorang wanita. Hanya wanita. Ia tidak punya kekuatan untuk mempertahankan. Tubuhnya lesu, lunglai tak berdaya. Seandainya waktu terulang kembali maka wanita itu berjanji untuk tidak pernah membiarkannya pergi lagi.

Gadis itu membalikkan posisi tidurnya. Kali ini matanya benar-benar basah. Hatinya semakin sakit. Impiannya dulu ternyata hanya sekedar mimpi. Ia memang harus bangun dan kembali metanap dunia penuh ceria seperti ia masih kecil dulu. Saat ayah dan ibunya membelikan es krim ketika jalan-jalan.

Batinnya sama sekali tidak pernah berhenti berdoa. Doanya seperti memaksa Tuhan. Ia tidak ingin membiarkan Tuhan memiliki pilihan dalam pengkabulan doanya. Hari demi hari terasa semakin menyakitkan. Iya, tapi gadis itu masih bisa menyunggingkan senyum, menutupi semua  perasaannya bahkan tersenyum di depan sosok itu. Hingga sosok itu merasa tak pernah pasti. Kadang ia berkhayal tentangnya, ia duduk di pelaminan dan bersanding mengucapkan janji suci, melahirkan anak-anak yang imut dan lucu, serta ia berharap ia dapat menceritakan rasa cinta itu pada anak-anaknya kelak tentang sosok ayah, pria yang menjadi penuntunnya menuju surge kelak. Di saat semua masalah yang mereka akan hadapi, lelaki itu mampu menyumbangkan bahunya untuk bersandar sejenak agar wanita itu dapat tegar. Lagi-lagi itu hanyalah sebuah khayalan yang belum tentu terjadi. Mungkin juga tidak terjadi, tapi sebuah perngharapan akan tetap mejadi kenyataan di batin dan khayalnya.

Semuanya sudah kembali seperti sedia kala. Mereka seperti melupakan kejadian itu. Namun, gadis itu semakin mengingatnya. Sosok itu dekat namun terasa jauh. Sayangnya bukan seperti yang dulu. Sangat memilukan. Entah mengapa gadis itu masih mengharapkan sebuah keajaiban dari Tuhan. Walaupun sekarang Tuhan sudah berusaha untuk menghadirkan sosok-sosok lain dalam kehidupan gadis berkulit sawo matang itu, hatinya masih belum terjamahkan. Ia merasa bahwa Tuhan sedang mengujinya dengan segudang godaan. Mengapa hanya sosok itu yang ia idamkan? Apa ia seperti malaikat hingga ia tidak membiarkan gadis itu jatuh cinta dengan yang lain? Namun sebuah kepastian mengatakan dia bukan malaikat!

Jika memang mencintai adalah anugrah, biarlah aku tetap mencintainya tanpa harus berkata. Tapi jika cinta itu hanya sebuah penghapusan dosa, maka sakitilah aku dengan sebuah rasa itu hingga semua dosa-dosaku pergi seperti ia pergi meninggalkanku.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung ke blog saya ^_^

Salam Cahaya ^_^